Senin, 28 November 2011


LAPORAN PRAKTIKUM
PENYEHATAN AIR DAN PENGOLAHAN LIMBAH
PENGHITUNGAN DAN PENGUKURAN DISSOLVED OXYGEN (DO)






















Oleh :
Feri Triana
B 0903027
Kesling semester III
Kelas A














PROGRAM STUDI DIPLOMA III KESEHATAN LINGKUNGAN
POLITEKNIK BANJARNEGARA
2011
BAB I
PENDAHULUAN

      Air merupakan salah satu zat yang paling dibutuhkan oleh manusia dalam proses kehidupan ini setelah udara, baik secara kualitas maupun kuantitas. Tanpa zat air, manusia akan mengalami berbagai kesukaran dan kendala dalam menjalankan kehidupan ini. Air yang dimaksud dalam konteks ini adalah air tawar, karena hanya air tawar (air bersih) yang akan dapat secara langsung dipakai dalam menunjang kehidupan masyarakat atau manusia (ekonomi atau kesejateraan) dan kesehatannya.
     Air adalah salah satu sumber daya alam bagi makhluk hidup yaitu suatu sistem rangkaian kehidupan dalam arti setiap kondisi alam akan mempengaruhi petumbuhan atau perkembangan kehidupan. Apabila suatu ekosistem telah tercemar oleh suatu limbah yang tidak ramah lingkungan, akan menurunkan tingkat pertumbuhan. Begitunpula pada suatu industri yang menghasilkan limbah dengan membuang ke lingkungan sekitar tanpa pengolahan khusus terlebih dahulu dengan standart baku mutu yang aman bagi lingkungan.
      Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah baik limbah industri maupun limbah rumah tangga, merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh negara berkembang seperti Indonesia. Umumnya limbah yang dibuang akan berpengaruh pada suatu lingkungan. Limbah tersebut dapat dikategorikan limbah berbahaya maupun tidak berbahaya. Pembuangan limbah berbahaya akan menjadi persoalan besar bila air yang dikonsumsi oleh manusia, hewan, dan organisme tercemar limbah yang mengandung senyawa berbahaya.
      Limbah cair industri dan limbah rumah tangga apabila dibuang ke perairan secara terus menerus tanpa pengolahan terlebih dahulu akan dapat mempengaruhi sifat fisika – kimia perairan tersebut. Pengaruh utama limbah organik yang masuk ke dalam air adalah menurunnya kandungan oksigen terlarut dan meningkatnya BOD, COD, TSS, TDS, nitrit, bau dan unsur lain yang merupakan parameter utama dalam pencemaran air sehingga dapat menimbulkan gangguan sistem aquatik dan menurunnya daya guna perairan yang bersangkutan.
      Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan:




















BAB II
ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA

A.        Alat

B.        Bahan
            Beberapa sampel air yang digunakan dalam praktikum yaitu :

C.        Cara Kerja
b.    Persiapan sampel
c.    Perlakuan Sampel atau Pengukuran TSS

TSS  =
1000
X (b-a) mg/lt
50

   Ket:  mg/Ltr            = satuan TSS
 50                   = Volume sampel       
 1000               = 1 liter
 a                      = berat kertas whatman sebelum diberi sampel
 b                     = berat kertas wathman setelah diberi sampel
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
No
Klmpk
Sampel Air
Berat Awal ( a )
[mg]
Berat Akhir ( b )
[mg]
TSS
(mg/L)
1
I
Irigasi
1247,3
1250,5
64
2
II
Limbah Tapioka
1262,1
1306
878
3
III
Limbah Tahu
1231,4
1321,4
1800
4
IV
Limbah Kayu
1237,3
1243,1
116
5
V
Limbah Rumah  Tangga
1222,9
1236,2
266
6
VI
Sungai
1238,7
1239,6
18


      Kualitas air ditentukan oleh banyak faktor yaitu zat terlarur, zat yang tersuspensi, dan makhluk hidup khususnya jasad renik di dalam air. Air murni yang tidak mengandung zat terlarut tidak baik untuk kehidupan ikan, sebaliknya zat yang terlarut dapat bersifat racun. Apabila zat yang terlarut, zat tersuspensi dan makhluk hidup dalam air membuat kualitas air menjadi tidak sesuai untuk kehidupan ikan, maka air tersebut dikatakan tercemar.
       Pembangunan dapat memberikan dampak positif dan negatif terhadap lingkungan. Dampak negatif yang ditimbulkan akibat pembangunan dapat menimbulkan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu setiap kegiatan atau aktivitas yang diperkirakan akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan diwajibkan melakukan Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Amdal bertujuan agar perubahan lingkungan akibat pembangunan tidak menurunkan atau menghapuskan kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan pada tingkat kualitas yang lebih tinggi.
      Parameter-parameter fisika yang biasa digunakan untuk menentukan kualitas air meliputi cahaya, suhu, kecerahan dan kekeruhan, warna, konduktivitas, padatan total, padatan terlarut, padatan tersuspensi, dan salinitas. TSS (Total Suspended Solid) atau total padatan tersuspensi adalah padatan yang tersuspensi di dalam air berupa bahan-bahan organik dan inorganic yang dapat disaring dengan kertas wathman. Materi yang tersuspensi mempunyai dampak buruk terhadap kualitas air karena mengurangi penetrasi matahari ke dalam badan air, kekeruhan air meningkat yang menyebabkan gangguan pertumbuhan bagi organisme prosedur.
      Sedangkan menurut Taringan dan Edward 2003 dalam jurnalnya yang berjudul  Kandungan Total Zat Padat Tersuspensi (Total Suspended Solid) Di Perairan Raha, Sulawesi Tenggara Zat padat tersuspensi (Total Suspended Solid) adalah semua zat padat (pasir, lumpur, dan tanah liat) atau partikel-partikel yang tersuspensi dalam air dan dapat berupa komponen hidup (biotik) seperti fitoplankton, zooplankton, bakteri, fungi, ataupun komponen mati (abiotik) seperti detritus dan partikel-partikel anorganik. Zat padat tersuspensi merupakan tempat berlangsungnya reaksi-reaksi kimia yang heterogen, dan berfungsi sebagai bahan pembentuk endapan yang paling awal dan dapat menghalangi kemampuan produksi zat organik di suatu perairan. Penetrasi cahaya matahari ke permukaan dan bagian yang lebih dalam tidak berlangsung efektif akibat terhalang oleh zat padat tersuspensi, sehingga fotosintesis tidak berlangsung sempurna. Sebaran zat padat tersuspensi di perairan antara lain dipengaruhi oleh masukan yang berasal dari darat melalui aliran sungai, atau pun dari udara dan perpindahan karena resuspensi endapan akibat pengikisan.
      Berdasarkan praktikum penghitungan TSS pada sampel air, seperti: Sampel air limbah atau air irigasi pasar salak, Sampel air limbah pabrik tapioca, Sampel air limbah pabrik tahu, Sampel air limbah pabrik kayu, Sampel air limbah rumah tangga dan Sampel air sungai didapatkan hasil pengukuran TSS sebagai berikut:







Kelompok
Sampel Air
TSS
(mg/L)
Kadar maksimum
(mg/L)
I
Air Irigasi
64
50
II
Air Limbah Tapioka
878
100
III
Air Limbah Tahu
1800
275
IV
Air Limbah Kayu
116
50
V
Air Limbah Rumah Tangga
266
60
VI
Air Sungai
18
50









      Hasil pengukuran TSS pada tabel di atas untuk sempel air irigasi pasar salak dan air sungai yang memenuhi persyaratan air bersih menurut PP No. 82 Tahun 2001 adalah air sungai. Ini berarti penetrasi cahaya matahari ke permukaan dan bagian yang lebih dalam berlangsung efektif, sehingga fotosintesis berlangsung sempurna. Air irigasi tidak memenuhi syarat sehingga tidak dapat menunjang kehidupan makhluk hidup di dalamnya.
      Sedangkan pengukuran TSS pada sampel air limbah tapioka, air limbah tahu, air limbah kayu dan limbah rumah tangga belum ada yang memenuhi syarat menurut Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah Nomor 10 Tahun 2004 Tentang Baku Mutu Air Limbah.
      Hasil pengukuran TSS yang tidak sesuai dengan ketetapan harus melakukan pengolahan terlebih dahulu sebelum masuk ke badan air. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kadar TSS yang masuk ke dalam perairan, sehingga tidak menyebabkan pencemaran lingkungan khususnya perairan yang di dalamnya terdapat berbagai macam biota-biota yang dapat membantu proses biogeokimia.








BAB IV
PENUTUP

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:












DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Efektifitas Sistem Pengolahan Limbah. Universitas Indonesia. Diakses tanggal 2 Januari 20101
Warlina, Lina. 2004. Pencemaran Air: Sumber, Dampak dan Penanggulangannya. Makalah pribadi Pengantar ke Falsafah Sains (PPS702) Sekolah Pasca Sarjana / S3. Diakses tanggal 2 Januari 2010
Tarigan, M.S. 2003. kandungan total zat padat tersuspensi (total suspended solid) di perairan raha, sulawesi tenggara. makara, sains, vol. 7, no. 3
























Tidak ada komentar:

Posting Komentar