Senin, 28 November 2011

laporan pining nyamuk

BAB I
PENDAHULUAN
            Vektor adalah anthropoda yang dapat menimbulkan dan menularkan suatu Infectious agent dari sumber Infeksi kepada induk semang yang rentan. Bagi dunia kesehatan masyarakat, binatang yang termasuk kelompok vektor yang dapat merugikan kehidupan manusia karena disamping mengganggu secara langsung juga sebagai perantara penularan penyakit, seperti yang sudah diartikan diatas.
            Adapun dari penggolongan binatang ada dikenal dengan 10 golongan yang dinamakan phylum diantaranya ada 2 phylum sangat berpengaruh terhadap kesehatan manusia yaitu phylum anthropoda seperti nyamuk yang dapat bertindak sebagai perantara penularan penyakit malaria, deman berdarah, dan Phyluml chodata yaitu tikus sebagai pengganggu manusia, serta sekaligus sebagai tuan rumah (hospes), pinjal Xenopsylla cheopis yang menyebabkan penyakit pes. Sebenarnya disamping nyamuk sebagai vektor dan tikus binatang pengganggu masih banyak binatang lain yang berfungsi sebagai vektor dan binatang pengganggu.
Pengawetan nyamuk dan pinjal dilakukan untuk bahan dokumentasi (arsip) dan bahan penataran serta sebagai pemeriksaan ulang (cross check). Dari pengawetan nyamuk dan pinjal tersebut kita dapat dengan mudah mengetahui morfologi serta jenis dari sempel yang digunakan untuk pengawetan tanpa mengidentifikasinya terlebih dahulu.


Tujuan dari praktikum yang dilakukan adalah:



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pengawetan nyamuk dan pinjal dilakukan untuk bahan dokumentasi (arsip) dan bahan penataran serta sebagai pemeriksaan ulang (cross check). Dari pengawetan nyamuk dan pinjal tersebut kita dapat dengan mudah mengetahui morfologi serta jenis dari sempel yang digunakan untuk pengawetan tanpa mengidentifikasinya terlebih dahulu.
Pengawetan yaitu suatu teknik atau tindakan yang digunakan oleh manusia pada suatu bahan sedemikian rupa, sehingga bahan tersebut tidak mudah rusak. Isrilah awet merupakan pengertian relatif terhadap daya awet alamiah dalam kondisi yang normal. Daya keawetan bahan berbeda antara beberapa hari dan beberapa bulan.
Sediaan permanen adalah sediaan tetap memberikan kemungkinan untuk membeda-bedakan spesies dengan penelitian yang mendalam atas struktur dan dapat digunakan untuk demontrasi atau referensi, sediaan memberikan hasil yang terbaik biasanya adalah referensi. Daya pembuatan pining digunakan agar dapat mempertahankan keadaanya dari berbagai hal yang bisa merusak dirinya agar tetap kuat dan tidak mudah rusak(anonim,2000)














BAB III
ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA










BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan praktikum yang telah kami lakukan, didapatkan hasil dari identifikasi nyamuk yang digunakan sebagai bahan untuk pinning adalah nyamuk Anopheles vagus dan Culex tritaeniorrhynchus. Sedangkan untuk proses pengawetan pinjal tidak dilakuakan karena proses pengawetan pinjal ini diperlukan waktu yang relatif lama untuk menghasilkan suatu preparat pinjal yang berkualitas baik. Sehingga pada praktik preparasi pinjal ini hanya dilakukan dengan cara demo (cara-cara perlakuan untuk mengawetkan pinjal tersebut). Serta hanya melakukan pengambilan sampel pinjal pada tubuh tikus, denagn cara menyisir rambut tikus secara berulang-ulang untuk mendapatkan pinjal tersebut dan praktikum yang kami lakukan terdapat 3 pinjal yang terdapat di tubuh tikus yang kami amati. Jenis tikus yang digunakan untuk praktikum ini adalah jenis tikus rumah (R. tanezumi) yang kami ambil dari salah satu rumah yang terletak di desa Slatri Kecamatan Karangkobar.

Gambar.1 Pinning
Nyamuk Culex tritaeniorrhynchus











Gamabar.2
pinning nyamuk Anopheles vagus



Sebelum  melakukan pengawetan pinjal terlebih dahulu dilakukan pencarian pinjal pada tikus jenis ratus tanezumi(tikus rumah) dengan rincian sebagai berikut:












Pengawetan nyamuk dan pinjal dilakukan untuk bahan dokumentasi (arsip) dan bahan penataran serta sebagai pemeriksaan ulang (cross check). Dari pengawetan nyamuk dan pinjal tersebut kita dapat dengan mudah mengetahui morfologi serta jenis dari sempel yang digunakan untuk pengawetan tanpa mengidentifikasinya terlebih dahulu.
Sediaan permanen(nyamuk dan pinjal) adalah sediaan tetap memberikan kemungkinan untuk membeda-bedakan spesies dengan penelitian yang mendalam atas struktur dan dapat digunakan untuk demontrasi atau referensi, sediaan memberikan hasil yang terbaik biasanya adalah referensi. Daya pembuatan pining digunakan agar dapat mempertahankan keadaanya dari berbagai hal yang bisa merusak dirinya agar tetap kuat dan tidak mudah rusak.
Pada pengawetan pemeriksaan pinjal yang telah dilakukan, dimana di cari pada tubuh tikus ratus tanezumi diperoleh hasil bahwa ditemukanya pinjal didalam tubuh tikus sebanyak 3 ekor. Sedangkan yang digunakan untuk pengawetan nyamuk adalah spesies nyamuk Culex tritaeniorrhynchus dan Anopheles vagus.















BAB V
KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
  1. Jenis-jenis vektor yang digunakan dalam praktikum pengawetan (pinning) adalah nyamuk dan pinjal.
  2. Tujuan dari pengawetan (pinning) adalah untuk mendokumentasikan (arsip) dan sebagai bahan penataran serta sebagai pemeriksaan ulang (cross check).


















DAFTAR PUSTAKA

DepKes RI, Dirjen PPM & PL, Direktorat P2B2. 2003. Modul Entomologi Malaria.
DepKes RI, Dirjen PPM & PL, Dirjen pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan pemukima. 1986. Petunjuk Melakukan macam-macam uji entomologi yang diperlukan untuk menunjang operasional program pemberantasan penyakit diluar serangga.
























LAPORAN PRAKTIKUM ENTOMOLOGI
PREPARASI PINJAL TIKUS DAN NYAMUK








Oleh
FERI TRIANA
B 0903027
Kelas A
Kelompok 5







PROGRAM STUDI DIPLOMA III KESEHATAN LINGKUNGAN
POLITEKNIK BANJARNEGARA
2010



Tidak ada komentar:

Posting Komentar